081341822021
081341822021
Customer service 1

Paket Wisata Kendari

Mesjid Agung Keraton Buton

Sunday, January 18th 2015.

Tahukah anda bahwa di Buton tersimpan karya seni dan arsitektur yang maha agung, yaitu Mesjid Agung Keraton Buton. Hebatnya sampai saat ini mesjid tersebut masih berdiri dan berfungsi sabagaimana layaknya mesjid.

Mesjid Agung Keraton Buton didirikan pada tahun 1538 M ini kemudian terbakar dalam perang saudara di Kesultana Buton. Oleh sebab itu, kemudian didirikan mesjid baru pengganti mesjid lama yang terbakar.

Di masa Sultan Buton ke-18, Sultan Mukhirudin Abdul Majid, terjadi perang saudara yang didalangi oleh Kapitan Laut Langkariri. Kapitan ini tidak puas dengan hasil pemilihan sultan yang dianggapnya tidak sesuai dengan tradisi saat itu. Perlu diketahui bahwa, pola kepemimpinan Kesultanan Buton tidak mengenal sistem pewarisan, jika sultan meninggal, maka pengantinya harus dipilih melalui sebuah dewan perwakilan yang disebut siolimbona.

mesjid keraton buton

Dalam pemberontakan yang dilakukan oleh Langkariri, ia berhasil mengalahkan sultan, sehingga ia kemudian naik menggantikan sultan yang telah ia turunkan tersebut. Peperangan dalam merebut kekuasaan ini berlangsung dahsyat selama tiga bulan, hingga mereka lupa dengan hari.

Dalam suasana kacau tersebut, seorang penyebar agama Islam yang bermukim di Kraton Wolio bernama Syarif Muhammad mendengar suara azan dari sebuah bukit kecil dekat keraton. Ia kemudian pergi mencari sumber suara azan tersebut. Ternyata, suara azan tersebut keluar dari sebuah lubang yang ada di bukit tersebut. Setelah ia amati, ternyata suara azan tersebut berasal dari orang-orang Mekkah yang sedang menjalankan shalat Jumat. Serta merta, ia kemudian mengumumkan kepada seluruh penduduk negeri bahwa hari itu adalah hari Jumat. Oleh karena itu, banyak penduduk yang datang untuk melaksanakan shalat Jumat. Syarif Muhammad kemudian memanfaatkan kesempatan itu untuk menyampaikan pidato perdamaian, hingga pihak yang bertikai menyadari kesalahannya dan sepakat untuk berdamai.

Di lokasi tempat mendengar suara azan, kemudian dibangun sebuah mesjid oleh Sultan Sakiudin Darul Alam, saat itu tahun 1712 M. Pembangunan mesjid baru ini, karena bangunan mesjid lama yang dibangun pada masa Sultan Buton pertama, yaitu Sultan Kaimudin telah habis terbakar dalam perang saudara yang berlangsung selama tiga bulan.

Keunikan mesjid pengganti mesjid lama ini adalah, terletak dalam sebuah benteng berdinding batu karang yang sangat kokoh. Dalam sejarah mesjid di nusantara, mungkin ini satu-satunya mesjid yang terletak dalam benteng.

mesjid-keraton-buton-sulawesi-tenggara

Mesjid agung keraton buton terletak di lokasi yang tinggi, cukup stategis, dalam sebuah benteng yang berdinding batu karang yang sangat kokoh. Letaknya yang cukup tinggi memungkinkan gema dari azan mesjid ini terdengar keseluruh penjuru.

Denah mesjid berbentuk segi empat panjang, dengan atap berjumlah dua lapis berbentuk limas. Saat ini, atapnya terbuat dari seng, kemungkinan, pada awal berdirinya, atap mesjid berasal dari daun rumbia atau nipah. Di dalam mesjid, letak mihrab dan mimbar berdampingan, dengan konstruksi dari batu bata, di bagian atasnya terdapat hiasan dari kayu berukir corak tumbuh-tumbuhan, mirip dengan corak Arabesque.

Untuk masuk ke dalam mesjid, terdapat 12 pintu masuk melambangkan lubang pada tubuh manusia ( mata 2, telinga 2, hidung 2, mulut 1, dada 2, pusat 1, kemaluan 1 dan anus 1, jika dijumlahkan semua ada 12 lubang ), salah satu di antaranya merupakan pintu utama. Di bagian depan, atau sebelah timur sisi mesjid terdapat serambi terbuka, di bagian tengah-depan ini, juga terdapat tangga beratap mirip baruga yang sering ditemukan dalam rumah adat orang-orang Sulawesi Selatan. Jumlah anak tangga pada mesjid ini berjumlah 19 anak tangga yang merupakan simbol dari rakaat sholat ( isya 4 raka’at, subuh 2 raka’at, dzuhur 4 raka’at, ashar 4 raka’at, magrib 3 raka’at dan ditambah 2 raka’at sholat sunah masuk mesjid, jika di jumlahkan menjadi 19 rakaat ). Atap tangga hanya terdiri dari satu sisi miring.

Kayu yang digunakan untuk membangun mesjid berjumlah 313 potong sesuai dengan jumlah tulang pada manusia. Bedug mesjid yang berukuran panjang 99 cm dianalogikan dengan asmaul husna dan diameter 50 cm dimaknai sama dengan jumlah rakaat salat yang pertama kali diterima Rasulullah. Pasak yang digunakan untuk mengencangkan bedug tersebut terdiri dari 33 potong kayu yang dianalogikan dengan jumlah bacaan tasbih sebanyak 33 kali.

sejarah-mesjid-agung-keraton-butob

Di depan pintu utama di antara dua selasar terdapat sebuah guci bergaris tengah 50 sentimeter dengan tinggi 60 sentimeter. Guci itu terhunjam ke lantai semen berlapis marmer. Guci tersebut telah ditempatkan di situ sejak adanya mesjid ini sebagai penampungan air untuk berwudu.

Di dalam mesjid, terdapat sebuah lampu antik dari perunggu bercabang tiga yang digantung di tengah mesjid. Di tiap cabang lampu gantung tersebut, terdapat tiga bola lampu. Konon, lampu model ini hanya ada tiga buah di Indonesia, dua lainnya ada di Istana Negara Jakarta dan Kraton Yogyakarta.

Pada tahun 1930, di masa Sultan Hamidi (Sultan ke-37), mesjid ini untuk pertama kalinya di renovasi tanpa mengubah bentuk aslinya. Saat itu, atap rumbia diganti dengan seng, dan sebagian rangka kayu diganti, karena sudah lapuk dimakan usia.

Mesjid agung keraton buton ini merupakan warisan budaya yang harus di lestarikan, khususnya bagi masyarakat buton.

Silahkan anda baca juga keragaman flora dan fauna hutan buton